Meski sebenarnya kamu kucintai
tapi itu semua harus kubendung
semua itu harus terus berada dibalik tirai rahasia
yang mungkin suatu saat bukan aku yang membukanya
cinta,
hari ini kamu berputar - putar dipikiranku
kamu sudah benar - benar menggangguku
kamu tahu?
Aku sakit dengan perasaan ini
aku harus bertahan dengan kesetiaanku menjaga cinta kita
atau mungkin cintaku sendiri, padamu,,
bilamana Tuhan berkehendak, pasti semua ini akan aku sudahi
aku ceritakan tentang rasa ini padamu
aku ungkapkan bahwa kamulah pengisi hatiku
tapi aku yakin Tuhan tak akan suka
Dia pasti cemburu, karena mencintaimu bukan pada saatnya
Tuhan, tulis namanya untuk bersamaku kelak
bilamana Tuhan berkehendak, pasti aku akan bahagia
mencintaimu adalah anugerah, tapi juga sebuah petaka
aku sakit pada rasa ini
aku mencintaimu dengan sangat sederhana
berharap kamu juga punya rasa yang sama
itu saja
bilamana Tuhan berkehendak, tirai itu pasti aku yang membukanya
aku yang akan menjemputmu dengan menyebut namaNya
tapi cinta adalah rahasia Tuhan
aku tak mau mendahuluinya
cinta dengarlah
rasakan apa yang aku rasakan sekarang
sungguh rasa ini begitu sakit, dan indah
sungguh aku kelimpungan dibuatnya
aku hanya meminta
jaga dirimu yang sekarang menjadi bunga
iya bunga,
kamu begitu mempesona
suatu saat kau pasti akan dijemput
aku berharap akulah dia,
tapi cinta adalah rahasia Tuhan
aku tak mau mendahuluinya
cinta
sekarang kuncilah dulu tirai kita
aku tak mau mengintip terlalu jauh lagi
mari memuji Dia yang sudah memberi rasa ini
rasa yang sudah membuatku kacau
rasa yang membuatku tak menentu
rasa yang membuatku selalu merindukanmu
cinta
jangan dahului rahasia Tuhan kita
SRS, 06032012
aneaan
Minggu, 13 Mei 2012
KELINGKINGMU
Malam merenda sunyi
terpukau dalam kidung temaram
senyap, membasuh debu pipi tirusku
tak ada pundak untuk kuadu
semua telah terjala merana
menyatu bak gumpalan noktah laguku
menyanyi dalam sendu dan decak haru
atau lagu itu mengajakku bermesraan dengan kerinduan tak berujung
rindu, saat seharusnya kuraih jari kelingkingmu, atau paling tidak bercengkrama dengan binar matamu
kamu, usia tidaklah menunjukkan apa - apa, aku masih saja merengek - rengek dengan Tuhan untuk menemuimu,,
aku tetap saja bagai penanti mainan, atau apapun itu hingga kadang suaraku menjadi parau dan butir airmataku tinggallah perih,,
bagai nostalgia dan kisah klasik akannya, semoga aku bukan peminta - minta yang ditemui dalam iba,
kamu, aku mengenalmu bukan karena kehadiranmu yang baru,
aku menemukan dia disinar matamu, dia yang selalu kurindukan dalm tiap sajak tulisanku, dia yang pernah membuatku takut akan perpisahan dan akhirnya terjadi, bolehkah kupegang pipimu? Kuusap ia dan kuraih pundakmu? Sekali saja.
Sayang kau bukan dia, kau boleh menolaknya,
merindukanmu, adalah memasukkan duri kedalam nadi, menabur garam diatas luka, perih,,
merindukanmu, bagaikan doa seorang kafilah yang mengharap gurun kan berakhir, menanti oase dan daun hijau, risau,,
merindukanmu, bagai menantikan tibanya kiamat, menakutkan,,
kau tak akan tahu berapa luka yang sudah kau toreh untuk penanti ini, kau juga tak pernah tahu berapa sakit jiwa sang pengembara ini, kau juga tak akan pernah tahu betapa aku merindukanmu.
Anggaplah ini berlebihan,
kidung jari kelingking berakhir sudah
atasnama yang sangat payah
dalam ruang tak terarah
dalam gundah
entah
SRS, 20032012
terpukau dalam kidung temaram
senyap, membasuh debu pipi tirusku
tak ada pundak untuk kuadu
semua telah terjala merana
menyatu bak gumpalan noktah laguku
menyanyi dalam sendu dan decak haru
atau lagu itu mengajakku bermesraan dengan kerinduan tak berujung
rindu, saat seharusnya kuraih jari kelingkingmu, atau paling tidak bercengkrama dengan binar matamu
kamu, usia tidaklah menunjukkan apa - apa, aku masih saja merengek - rengek dengan Tuhan untuk menemuimu,,
aku tetap saja bagai penanti mainan, atau apapun itu hingga kadang suaraku menjadi parau dan butir airmataku tinggallah perih,,
bagai nostalgia dan kisah klasik akannya, semoga aku bukan peminta - minta yang ditemui dalam iba,
kamu, aku mengenalmu bukan karena kehadiranmu yang baru,
aku menemukan dia disinar matamu, dia yang selalu kurindukan dalm tiap sajak tulisanku, dia yang pernah membuatku takut akan perpisahan dan akhirnya terjadi, bolehkah kupegang pipimu? Kuusap ia dan kuraih pundakmu? Sekali saja.
Sayang kau bukan dia, kau boleh menolaknya,
merindukanmu, adalah memasukkan duri kedalam nadi, menabur garam diatas luka, perih,,
merindukanmu, bagaikan doa seorang kafilah yang mengharap gurun kan berakhir, menanti oase dan daun hijau, risau,,
merindukanmu, bagai menantikan tibanya kiamat, menakutkan,,
kau tak akan tahu berapa luka yang sudah kau toreh untuk penanti ini, kau juga tak pernah tahu berapa sakit jiwa sang pengembara ini, kau juga tak akan pernah tahu betapa aku merindukanmu.
Anggaplah ini berlebihan,
kidung jari kelingking berakhir sudah
atasnama yang sangat payah
dalam ruang tak terarah
dalam gundah
entah
SRS, 20032012
IA
Seperti jerami
merangkai rumput kering dalam gumpalannya
seperti menemukan bahtera
yang telah lama dilamun samudera
aku melihatnya diatas karpet tua
bersandar dibalik dinding lapuk dimakan senja
menghela diantara barisan semut yang baru saja menjarah bangkai - bangkai belalang
dia baru saja menghadap Tuhan
meminta pertanggungjawabanNya atas kehidupan yang diberikan
ia tak pernah marah
ia tak pernah mengeluh
ia hanya bertanya
Tuhan, bolehkah hamba meminta kebahagiaan dunia?
Aku mengenalnya, sangat mengenalnya
dia adalah bagian dari bongkahan mozaik hidupku
bagaimana mungkin aku melupakannya
matanya yang kecoklatan itu selalu memancar saat berbicara
ia tak pernah menampakkan kesedihan meski pucat pasi mengisi penjuru wajahnya
dia tak mengeluh atas robekan celananya
ia tetap tersenyum diantara kerapuhan ransel bututnya
ia terus tertawa dalam langkah sepatunya yang menganga
ia terus begitU saat bertemu denganku
seperti hujan yang merinai
seperti lambaian nyiur dipantai
mengalun penuh nada galau
menyanyikan kidung pengharapan
dalam doa - doa kudus
percayalah pada Tuhan kita
Karena dibalik dinding tua itu
ada sebongkah puing yang terbuat dari berlian
kau boleh mengintipnya
tapi butuh kesucian
untuk bisa, engkau meraihnya
percayalah pada nyanyian hatimu
maka kegelapan yang bersarang akan hilang
tak pernah Tuhan menciptakan makhluknya untuk menjadi susah
tak ada payah tanpa penyelesaian masalah
DIA melihatmu bahkan saat kau tak bisa melihat dirimu
pujalah DIA, dalam tasbih dan doa yang suci,,
SRS, 28032012
merangkai rumput kering dalam gumpalannya
seperti menemukan bahtera
yang telah lama dilamun samudera
aku melihatnya diatas karpet tua
bersandar dibalik dinding lapuk dimakan senja
menghela diantara barisan semut yang baru saja menjarah bangkai - bangkai belalang
dia baru saja menghadap Tuhan
meminta pertanggungjawabanNya atas kehidupan yang diberikan
ia tak pernah marah
ia tak pernah mengeluh
ia hanya bertanya
Tuhan, bolehkah hamba meminta kebahagiaan dunia?
Aku mengenalnya, sangat mengenalnya
dia adalah bagian dari bongkahan mozaik hidupku
bagaimana mungkin aku melupakannya
matanya yang kecoklatan itu selalu memancar saat berbicara
ia tak pernah menampakkan kesedihan meski pucat pasi mengisi penjuru wajahnya
dia tak mengeluh atas robekan celananya
ia tetap tersenyum diantara kerapuhan ransel bututnya
ia terus tertawa dalam langkah sepatunya yang menganga
ia terus begitU saat bertemu denganku
seperti hujan yang merinai
seperti lambaian nyiur dipantai
mengalun penuh nada galau
menyanyikan kidung pengharapan
dalam doa - doa kudus
percayalah pada Tuhan kita
Karena dibalik dinding tua itu
ada sebongkah puing yang terbuat dari berlian
kau boleh mengintipnya
tapi butuh kesucian
untuk bisa, engkau meraihnya
percayalah pada nyanyian hatimu
maka kegelapan yang bersarang akan hilang
tak pernah Tuhan menciptakan makhluknya untuk menjadi susah
tak ada payah tanpa penyelesaian masalah
DIA melihatmu bahkan saat kau tak bisa melihat dirimu
pujalah DIA, dalam tasbih dan doa yang suci,,
SRS, 28032012
BUNGA, TIDUR.
Bungaku
masihkah kau intip aku dari sana
masihkah kau singkap tabir kita dengan hati-hati
hari ini kau hadir lagi
dengan matamu yang bagai zamrud
dengan senyummu yang bagai sabit
mengelilingi pusar kepalaku
melintasi tiap bayang pikiranku
aku tahu
kau juga sangat rindukanku
akupun begitu
harusnya sekarang kita berhadap-hadapan
aku mengisi celah jemarimu
aku mengecup keningmu
tapi tangan Tuhan belum mempertmukan kita untuk melakukan itu
kau harus masih menjaga mahkotamu
akupun juga harus mengurusi kehormatanku
bungaku, aku rindu
apa yang kini kau lakukan wahai pemilik putik yang suci?
Boleh, Aku menebaknya?
mungkin kau sedang membaca kitab
atau, mungkin kau juga tengah menuliskan surat kerinduan, seperti yang aku lakukan sekarang
ahh, aku terlalu berkhayal
bungaku, aku boleh bertanya?
Apa yang telah kau makan hingga tak pernah lelah mendiami hatiku?
Padahal aku takut dengan rahasia Tuhan kita
aku pernah sangat takut
bahwa kau putus asa menungguku
bahwa kau meragukan kesetiaanku
dan engkau tak yakin bisa mencintaiku, seutuhnya
bungaku,
aku tak pernah mengikatmu
tulislah surat cintamu untuk siapa saja
selama Tuhan kita belum mengikat hati dan perasaan ini dengan ridhoNya
akupun akan terus menuliskannya
sampai ku temukan titik terakhir dalam bait kisah kita,
titik yang menjadi kisah terakhir pencarianku,
mencari bungaku.
Untukmu, bunga yang tengah mekar
jika Dia berkehandak
akulah yang akan datang memintamu
akulah ayah dari anak - anak kita nanti
akulah imam dari jamaah keluarga kita nanti
tapi jika Dia tak maukan itu
bersyukurlah
berarti tabir itu bukan aku yang akan membukanya
rahasiaNya begitu indah
bahkan manis bagi dia yang berpikir
tak peduli kau harus menangis
tak peduli kau meronta
Dia Maha Tahu
bungaku, tidurlah
sematkan doa ini untuk kita
"Tuhan, genggam nama kami dalam balutan daun cinta, di lauhul mahfudzMu"
aamiin.
SRS, 10052012
masihkah kau intip aku dari sana
masihkah kau singkap tabir kita dengan hati-hati
hari ini kau hadir lagi
dengan matamu yang bagai zamrud
dengan senyummu yang bagai sabit
mengelilingi pusar kepalaku
melintasi tiap bayang pikiranku
aku tahu
kau juga sangat rindukanku
akupun begitu
harusnya sekarang kita berhadap-hadapan
aku mengisi celah jemarimu
aku mengecup keningmu
tapi tangan Tuhan belum mempertmukan kita untuk melakukan itu
kau harus masih menjaga mahkotamu
akupun juga harus mengurusi kehormatanku
bungaku, aku rindu
apa yang kini kau lakukan wahai pemilik putik yang suci?
Boleh, Aku menebaknya?
mungkin kau sedang membaca kitab
atau, mungkin kau juga tengah menuliskan surat kerinduan, seperti yang aku lakukan sekarang
ahh, aku terlalu berkhayal
bungaku, aku boleh bertanya?
Apa yang telah kau makan hingga tak pernah lelah mendiami hatiku?
Padahal aku takut dengan rahasia Tuhan kita
aku pernah sangat takut
bahwa kau putus asa menungguku
bahwa kau meragukan kesetiaanku
dan engkau tak yakin bisa mencintaiku, seutuhnya
bungaku,
aku tak pernah mengikatmu
tulislah surat cintamu untuk siapa saja
selama Tuhan kita belum mengikat hati dan perasaan ini dengan ridhoNya
akupun akan terus menuliskannya
sampai ku temukan titik terakhir dalam bait kisah kita,
titik yang menjadi kisah terakhir pencarianku,
mencari bungaku.
Untukmu, bunga yang tengah mekar
jika Dia berkehandak
akulah yang akan datang memintamu
akulah ayah dari anak - anak kita nanti
akulah imam dari jamaah keluarga kita nanti
tapi jika Dia tak maukan itu
bersyukurlah
berarti tabir itu bukan aku yang akan membukanya
rahasiaNya begitu indah
bahkan manis bagi dia yang berpikir
tak peduli kau harus menangis
tak peduli kau meronta
Dia Maha Tahu
bungaku, tidurlah
sematkan doa ini untuk kita
"Tuhan, genggam nama kami dalam balutan daun cinta, di lauhul mahfudzMu"
aamiin.
SRS, 10052012
Selasa, 13 Maret 2012
RUMAH “DAMAI”DI SUDUT KOTA
RUMAH “DAMAI”DI SUDUT KOTA
Malam ini terasa berbeda dan sangat
kontras dengan yang selama delapan bulan ini kujalani, ruangan penuh asap
rokok, ketidakberaturan, dan sampah dimana – mana, tidak seperti kontrakanku yang
bersih dan “nyaman”, yah fasilitas oke. Kawan,
kali ini ku bercerita tentang kost teman-temanku yang damai.
Malam
kian larut tapi sudut-sudut kota khatulistiwa makin sibuk, muda – mudi berjibun
melintasi jalanan kota, kusadari malam ini adalah malam minggu, saat mereka
mereka yang merindukan “kesenangan” keluar rumah dan aku menjadi salah satunya,
jam sepuluh ini sudah waktunya aku pulang dari liqo (kajian intensif
memperdalam ajaran agama) tapi jalur yang kuambil kali ini berbeda, jika
biasanya aku harus memutar bundaran digulis dan berbelok kekanan tapi kali ini
kuda besiku aku arahkan ke kiri, berbelok kedaerah kota baru, setelah melakukan
“perundingan” melalui pesan singkat untuk menginap di tempat kost kawanku SMA
yang kini berkuliah di sekolah tinggi perguruan didaerah itu, aku lalu memacu
gas motorku untuk segera kekostnya, tak cukup lama memang, hanya cukup lima
belas menit saja, tapi karena lapar aku memutuskan untuk berhenti ditepi jalan
kemudian memesan makanan, sate, makanan tanah jawa, makanan leluhurku pula,
karena aku berasal dari sana, konon aku memiliki empat darah yang mengalir di
badanku, ada melayu brunei-jawa dari ibuku, dan melayu sambas-sunda dari
ayahku, itu sering juga membuatku kebingungan untuk menentukan suku, tapi
sudahlah aku cinta indonesia.
Kulihat jam menunjukkan pukul sepuluh
tiga puluh malam saat aku harus menyantap sate yang aku bungkuskan, berbekal
pinjaman piring teman kost aku mulai melahap makanan favoritku ini dengan
nikmat, rasanya begitu empuk, alhamdulillah, Allah masih mengizinkan lidahku
untuk menikmati sate ini, tahukah kau kawan, bahwa diluar sana banyak yang kaya
raya tapi tidak bisa menikmati makanan rakyat ini hanya karena takut
kolesterolnya meningkat, atau saudara kita yang kurang beruntung, hidup dengan
sehat tapi tak menemukan sedikitpun kesempatan untuk memakannya karena terjerat
kemiskinan.
Allah
tuhanku yang pemurah, jadikan aku hambamu yang senantiasa bersyukur, yang tiada
berkeluh kesah ketika yang kumakan seadanya dan tidak pula bertinggi hati
ketika menikmati sajian mahal nan lezat, segala yang ku nikmati kali ini adalah
berkah dan rezeki yang Engkau titipkan padaku, maka dari itu ingatkan aku
selalu agar senantiasa bersyukur padaMu.
Sambil mengunyah, tak lupa mataku
menjeling handphone dan kemudian memusatkan pandangan pada televisi, mansur
teman SMAku juga, memang senang sekali dengan tayangan di televisi terutama dengan
film yang bertemakan laga, dan memang kupikir juga ada channel yang konsisten dengan tayangan yang seperti ini, yah, aku
cukup menikmati apalagi terkadang mansur yang dulu beda kelas denganku
membawakan beberapa guyonan ringan seperti memuji aku saat membaca bahan ujian
di laptop dengan kalimat “rajinnya, masih
kuat aja mata jam segini baca yg begituan, hahaha”. Kedamaian hatiku
kurasakan makin enak saja setelah cukup mencharge iman dengan liqo, kini aku
merasakan kedamaian dari sisi yang berbeda, keakraban dari sebuah persahabatan,
meski mereka bukanlah orang yang sifatnya seperti apa yang kutemui dari kebanyakan
teman liqo yang kukenal. mereka terbiasa merokok, bergaya kacau, berbicara
selepasnya, dan yahh, bisa kukatakan cukup brandal, tapi pandanganku pada
mereka seperti seorang sosiolog yang memperhatikan fenomena masyarakat secara
struktural fungsional, memandang bahwa segala sesuatu yang ada dalam kehidupan
ini memiliki peran masing - masing, jadi aku memandang mereka ya seperti apa
adanya mereka, sekelompok manusia seumuranku, yang sama - sama berjuang di kota
khatulistiwa dengan gelar mahasiswa yang disandangnya, yang ketika “pulang
kampung” harus membawa gelar yang wajib dibawanya pulang, SARJANA, meskipun
sebagian ujung drama mahasiswa itu terkadang pulang kampung dengan tanpa gelar,
tapi kewajiban kami harus begitu, SARJANA, demi membalas peluh orang tua yang
membanting tulang mencarikan uang untuk kebutuhan perkuliahan dan mewujudkan
doa terikhlas mereka untuk melihat anaknya memakai toga, dan yang utama demi
mendapatkan keridhoan Tuhan yang menciptakan ilmu dan pengetahuan yang tiada
batasnya Allah subhanahu wata’ala.
Syahdan yang mengajakku menginap
disini, masih saja berburu kuda catur diteras lantai dua kost tempatku dan
tempatnya tidur sekarang, yah, sepertinya ia lupa bahwa dia yang mengajakku
tidur disini, kalau hobi, memang susah
ditinggalkan, tapi kawan harusnya lebih susah ditinggalkan itu Kurang
berlaku padanya, buktinya aku dibiarkan begitu saja berteman dengan televisi,
tapi tidak masalah, ada Allah dan mansur yang bicara sekenannya bersamaku,
kubiarkan mereka menikmati tengah malam yang cukup bersahabat ini, baru aku
tersadar sekarang sudah jam sebelas limapuluh malam.
Rasanya malam kian hening saja, tapi
petikan gitar di kamar sebelah ruang televisi makkin semangat saja, ajir
temanku menikmati sekali lagu - lagu yang mereka nyanyikan seakan mereka sedang
mengadakan take vokal atau gladi
resik untuk konser, tapi akupun menikmatinya juga, tanpa kusadari terkadang aku
mengikuti lirik – lirik lagu yang mereka nyanyikan kalau aku hafal, suaraku
cukup merdu juga loh, satu lagi nikmat Allah yang kurasakan bahwa menikmati
hidup adalah bagian dari rasa syukur kepada sang pencipta, dan bersyukur akan
menambah kenikmatan, aku menyadari itu dan kuperhatikan kawanku, betapa mereka
menikmati kehidupan yang telah diberikan Allah pada mereka, hanya saja mereka
menikmati hidup dengan sedikit egois kepada penciptanya, syukur-syukur maghrib
tak terlewatkan, tapi kehidupan mereka berjalan aman-aman saja dan tidak ada
halangan yang terlalu berarti, subhanallah, Allah maha pemurah lagi maha
penyayang, semoga ada hidayah buat mereka agar menjadi seperti ustadz jefri,
hehhe,,
Hanya bertemankan iringan musik dari
kamar sebelah dan film laga yang kotonton bersama mansur kawanku, rasanya dua
jam berlalu begitu lama, mataku mulai mengendap dan mulutku mangap-mangap nggak
jelas, ngaaantuk, kuinisiatifkan kaki untuk melangkah keteras menjumpai syahdan
sahabatku yang mengajak menginap, aku berniat pamit masuk kamar duluan, eh
ternyata aku disuruh tidur dikamar hamid, kawanku satu SMA juga, dan aku juga
tidak menolak karena ngantuk, aku sempat menikmati iringan musik dari lagu “aku
ingin pulang” Ebiet G Ade yang menjadi pengiring permainan catur mereka, aku ngga
nyangka sekali kalau yang mereka dengar lagu melow juga, pelajaran kesekian
kudapatkan “tidak selamanya anak punk
yang gayanya ga tentu menurutku itu harus mendengar musik keras, mereka juga
perlu musik slow” pemandangan ini bagaikan pelengkap kedamaian rumah kost
di tepian kota, betul saja meski mereka tinggal dalam satu rumah yang besar dan
ramai, tapi aku tidak melihat mereka bertengkar atau saling diam, tidak
kutemukan mereka saling pelit dengan barang mereka, meski berantakan, asap dan
abu rokok dimana - mana, tapi mereka bisa hidup beriringan dengan suka cita dan
menjalani kehidupan yang ramai serta beriringan, melengkapi kebutuhan teman
yang kekurangan dan berbagi dengan teman jika merasa kelebihan, dan itu cukup
sulit kutemukan dikontrakanku, tidak semua penghuni rumahku bisa kuakrabi,
terkadang saling sinis, saling ejek dan membicarakan, sampai saling tidak
bertegur sapa hanya karena rebutan remote!!!
Padahal ngakunya anak baik – baik dan ga brandal. Aku cukup malu dan
mendapatkan pelajaran yang indah malam ini.
Tidur kunikmati tanpa cerita yang
berarti, semuanya terasa biasa saja, ku letakkan tas dan laptopku diatas kasur
hamid kawanku, tepat di ujung kepalaku, dan aku tertidur dengan nyaman, walau
sempat kudengar mereka beradu komentar saat menonton laga eropa atau apa itu
aku tidak tahu jelas, yang pasti mereka mengucapkan kata – kata spanyol
beberapa kali, timnas favoritku dipiala dunia 2010, kubiarkan saja sampai suara
azan membuatku terbangun dan tertidur pulas lagi sampai matahari naik
sepenggalan.
Allah
Tuhanku, terhatur beribu ampun dihadapanmu, hambaMu yang lemah ini, karena
kelalaiannya meninggalkan ibadah wajib sholat subuh, sungguh hamba merasa tidak
enak hati padaMu ya Allah, hamba meninggalkan sholat hanya karena hamba tidak
tahu kiblat dan tidak enak membangunkan teman, maafkan hamba atas kesalahan
ini, hamba tahu dosa telah Engkau catat tapi aku mohon ampun, dan bukakan
selalu pintu hidayah padaku. Hamba Khilaf.
“Makan
apa dit? Aku bingung nih mau nyiapin apa buatmu, dirumah juga nggak ada apa
apa, gimana kalau minum sereal saja,??”
Suara syahdan memecah pagi saat kami sedang nonton televisi, “udah nggak apa,
aku juga mau pulang”, kataku menolak, karena aku berniat pulang jam delapan,
nggak enak juga kelamaan ditempat kawan, kasian orang rumah pada nyari,
mungkiiiin,,
“Eh
ngga baik pulang tanpa ngisi perut, ntar kelaparan dirumah, kita juga yang di
tuduh ga ngasi makan kamu, hehe, tunggu ya jangan pulang dulu, aku kewarung
bentar beli sarapan”. Santai
saja syahdan berlenggang keluar tanpa memberiku kesempatan berkomentar, padahal
aku berniat menitipkan uang padanya, tapi biarlah, nanti saja kalau mau pulang,
ketika pulang, memang kawanku yang satu ini selalu memberikan perhatian yang
kadang dijadikan bahan guyonan oleh kawanku, mungkin aku dianggap adik olehnya
yang lebih tua dariku, dari warungpun dia menawarkan untuk membuatkanku minuman
sereal itu, Dan menolak uang yang kuberikan. Subhanallah, kawanku pengertian
sekali, kubiarkan saja dia yang membuat minuman itu, setelah kurasa, malangnya
aku harus bilang kedia kalau minumannya tawar dan dia mempersilakanku
menambahkan gula semauku, sampailah aku pada tetesan terakhir kembali kupetik
pelajaran:
bahwa
menghormati tamu adalah sebagai kemuliaan, dan begitulah tuntunan Rasullullah,
mereka yang kupikir malas berurusan dengan ilmu agama yang terlalu detail,
nyatanya telah mempraktekkan sendiri apa yang sudah di ajarkan oleh sang
pemimpin kaum yang hebat, yang membawa nilai-nilai cinta dari Tuhannya untuk
mencerahkan kegelapan. Aku terlalu terbiasa mempersilakan kawan yang bertamu
untuk mengatakan “anggap saja rumah sendiri, “ tapi ternyata tidak semua tamu
suka diberi hak seperti itu, kawan muliakanlah tamu maka pandangan positif akan
lahir dengan sendirinya.
Kupikir sekarang sudah waktunya pulang,
jam sembilan lewat sepuluh pagi, matahari pagi begitu cerah dan panas
kurasakan, malang, aku tidak membawa sekedar baju panjang. cuaca pontianak
memang begitu menyengat kalau sedang cerah, rasanya ingin terbakar kulit ini.
Setelah pamitan dengan hamid dan syahdan aku diantar sampai depan pintu dan
melenggang dengan kuda besiku yang agak manja, yang tiap bangun pagi harus
dipanaskan minimal satu menit, kubawa cerita hari ini dengan sebuah kesan :
Kebahagiaan
dan dan kesedihan adalah dekat batasnya, dan itu berada pada pikiran kita
masing masing, apa yang menurut kita buruk terkadang dianggap baik oleh orang
lain, begitupun sebaliknya, dan sebaik-baik manusia adalah yang mengajak orang
lain pada kebaikan dan menumbuhkan cinta kasih pada sesamanya.
Rumah “damai” itu seolah menjadi saksi
bisu yang akan berbicara di hari akhir kelak, dia mengajarkan aku tidak
selamanya berkumpul dengan orang yang kita anggap “baik” akan mendatangkan kita
pada kesenangan, tidak selamanya bersama orang-orang pendiam akan membuat kita
datang pada kebahagiaan, bukan, tapi rumah itu sudah menjelaskan bahwa
kedamaian dan kebahagiaan adalah ketika penghuninya bisa tersenyum dan menjalin
kerjasama yang apik saat semua anggotanya bersedih sekalipun. Aku ingin belajar
menciptakan iklim seperti itu dirumah, amin
Allahumma amin.
Aan khosihan 26062011
KALAU BERDUA, YANG KETIGANYA ITU “SETAN”!
KALAU
BERDUA, YANG KETIGANYA ITU “SETAN”!
“Tidakkah membicarakan seseorang
yang tidak mendatangkan manfaat itu adalah hal yang tidak disarankan?, jika
yang dibicarakan itu benar maka akan menjadi ghibah, dan katika itu hanya
sebuah kebohongan maka akan menjadi fitnah, dan tahu sendiri kan
konsekuensinya, ghibah itu layaknya memakan bangkai saudaranya sendiri, maka
berhentilah kau membicarakan pertemuan sekilas yang tidak direncanakan abangmu
dengan kami semalam di mall, rei, sungguh abangmu tidak tahu apa – apa tentang
kejadian yang sebenarnya dan jangan kau bumbui dengan gelora cinta yang sedang mewarnai hidupmu sekarang”, seketika
itu pula reihan tampak tersentak mendengar kata-kataku, seorang lulusan
pesantern ketika tsanawiyah dan mengambil SMA umum setelah kelulusannya itu, menunjukkan
muka yang kurang bersahabat mendengar kalimatku, mungkin dia terngiang akan
kata-kata ustadznya waktu dipesantren dulu.
***
Sore
ini kupacu roda duaku menuju sebuah pusat perbelanjaan didaerah gajah mada,
niat hati mencarikan oleh – oleh untuk ibu tercinta dikampung, beliau
menitipkan amanah untuk dibelikan piring yang unik dan menarik lewat pesan
singkat yang dikirim rani adikku :
“long, ibu minta
beliin piring yang unik tuh, katanya mungkin bisa nambah selera makan”
Aku teringat beberapa waktu yang
lalu pernah berseloroh menceritakan perjalananku kesebuah mall, yang menemukan
aneka piring unik dan menarik dari bahan melamin, ibuku menunjukkan reaksi yang
biasa saja, seperti biasa ekspresinya selalu datar kalau aku menceritakan hal –
hal yang berbau belanjaan, tapi aku tahu dua atau tiga hari kedepan beliau
pasti membicarakannya, dan itu yang terjadi, sebuah pesan singkat dari adikku
menjadi buktinya, kata long itu sendiri sudah dipakai adikku sejak kecil untuk
memanggil namaku, karena itu merupakan kata ganti abang/kakak yang sulung bagi
suku melayu didaerahku. Kebetulan, Wina temanku satu kelas, mengajak pergi ke
sebuah pasar, mungkin dia berniat membeli sesuatu disana, aku mengiyakan saja,
lalu kuajak teman satu kelas juga, si era. Ditengah perjalanan aku langsung
berganti niat setelah ingat akan pesan singkat yang dikirim rani barusan.
“hmm, gimana kalau kita ke supermarket
aja yuk ra” ucapku ke era yang bengong kubonceng,
dari tadi dia diam saja.
“boleh aja, soalnya aku Cuma niat nebeng
jalan-jalan ni, bosan juga ngerjain tugas terus, tapi si wina dan randa gimana?
Kan dia ngajak kita kepasar tradisional itu, berlawanan arah lagi”
era tampak setuju tapi bingung mau memberi tahu wina yang dari tadi mengikut dibelakang
motor kami.
“gampanglah itu, nanti berhenti
bentar di persimpangan ajak dia putar arah, udah mau magrib juga mau kesana,
kan jauh tuh”
Kami
berhenti, kemudian tidak lama wina dan randa yang boncengan dibelakang kami,
juga ikut-ikutan berhenti, aku langsung mengajaknya kesupermarket yang menjual
piring – piring yang kuharapkan, tapi mereka menolak dan akhirnya kita jalan
berdua – berdua, ini sungguh diluar dugaan, dan karena niatkupun setengah –
setengah juga ikut wina, lalu aku dan era kemudian berbalik arah ke supermarket
yang kami perkirakan punya koleksi piring yang unik – unik seperti yang kulihat
di mall beberapa waktu yang lalu, yah, dengan alasan disana lebih murah kata
era, alhasil, tidak satupun piring yang cocok kutemukan, disana hanya menjual piring
– piring porselen dan jauh dari harapanku. Kami memutuskan untuk pergi ke mall
tempat pertama aku melihat piring – piring itu, era pun setuju dan kupacu
kembali motor ke daerah ahmad yani tempat mall terbesar dipontianak berada, sayang
sekali merelakan uangku seribu rupiah dilahap tukang parkir.
Setibanya di mall, kami tidak
langsung pergi ke tempat piring-piring itu berada, aku memutuskan untuk
mengajak era jalan – jalan sebentar keliling mall, lumayan lah melihat ramainya
pengunjung dimalam minggu ini, kami hanya bergurau – gurau ria dengan bahasan
yang ringan dan kadang mengomentari harga barang yang selangit di mall itu,
“adohh, coba kalau ada anak – anak
yang lain ya, pasti seru nih” aku berseloroh.
memang,
aku, era, wina, rangga, dan risna adalah lima sekawan yang akrab sekali di
kelas, kemana – mana selalu berlima, sampai sebagian teman kelas menganggap
kami adalah teman satu geng, tapi kami menolak dikatakan geng, kami hanya
merasa punya kecocokan berlima dan akan merasa kurang, kalau salah satunya hilang,
apalagi seperti sekarang ini, bertiga yang hilang, karena risna memilih tidak
mau pergi, hanya karena alasan sepele “lagi
males dan mau main gem laptop” itu saja, si ratu gem ini memang tidak bisa
dikendalikan jika sudah bertemu dengan gem yang belum pernah dimainkannya.
Kemudian rangga dan wina, yah, mereka menolak ikut kami dengan alasan awal, mau
kepasar saja, jadinya aku dengan era yang menikmati perjalanan dengan
kehilangan tiga personelnya, hehee.
Muda-mudi,
anak – anak, nenek-nenek, dan banyak orang dengan status usianya masing –
masing kami jumpai di sana, malam minggu ini memang selalu disesaki oleh
pengunjung yang ingin menikmati malam libur, paling tidak kalau mereka enggan
berbelanja, mereka bisa mnikmati makanan enak atau pergi ke pusat bermain yang
ada di mall ini, tanpa sengaja pula aku bertemu bang saiful bersama pacarnya,
aku tidak begitu kaget karena pasangan ini sering “jalan bareng” tiap malam
minggunya, biasanya mereka pulang kurang dari jam sembilan malam, sebuah
pacaran yang baik menurutku, tidak terlalu pulang malam, namun tetap saja ada
yang lebih baik yang harusnya kurekomendasikan pada mereka, “pacaran aja abis
nikah nanti bang”. Tapi itulah pilihan
mereka, aku tidak berhak mengatur – atur teman satu kontrakanku ini.
“eh eh, hayo jalan sama
siapa nih ketahuan ya sekarang” pacarnya bang saiful
memulai obrolan dan bang saiful hanya tersenyum, memang kami cukup akrab karena
kak tiwi, pacarnya bang saiful ini, sering kerumah sekedar menghabiskan waktu.
“ini loh yang namanya era,
temanku satu kelas yang sering numpangin aku kamar mandi kalau tempat kita
kehabisan aer bang, hehe” aku membela diri.
“cie – cie”
bang saiful lalu menyambung singkat, dan berlalu begitu saja dengan kak tiwi.
era hanya manggut-manggut dan ketawa – ketawa kecil saat kami menuju tempat
peralatan dapur dijual yang disitu ada berbagai piring yang aku cari.
“kenapa lu ra, ketawa – ketawa ngga
jelas?” aku langsung bertanya melihat tingkahnya.
“engga, aku yakin mereka pasti
mikir macem – macem deh ndi, lagian kenapa juga sih kita harus pergi bedua,
males tau ngga ketemu orang – orang yang kenal kamu tapi ga kenal kita”
“lu pikir aku juga ngga males gitu,
kalau ngga terpaksa berdua ga bakal juga kali kita jalan berdua”
aku membalas ucapan era yang tidak terlalu kupikirkan.
Setibanya di tempat itu, langsung
saja aku dan era memilih berbagai pilihan piring unik yang kucari, dan akhirnya
ketemu juga yang pas di hati, pas dikantong, dan pas dibawa pulang, tiga buah
wadah aku tenteng keluar mall bersama era, kita kemudian pulang dengan membawa
aneka piring yang tadi kubeli, makanan ringan, dan belanjaan masing-masing,
tanpa banyak bicara kami meninggalkan mall yang makin malam makin penuh saja
oleh pengunjung. Karena kelelahan kuputuskan untuk mengantar era langsung
kerumahnya lalu kemudian pulang kekontrakan, dirumah kulihat bang saiful sudah
datang, tapi dia hanya sendiri, tidak kulihat ada si reihan dan dan aris
temanku satu kontrakan juga, kata bang saiful mereka baru saja pergi ke warung
makan untuk makan malam, karena malam ini tidak ada jadwal piket masak,
sehingga kami masing – masing makan di luar, bang saiful hanya bercanda singkat
:
“ngapain
aja di mall ndi, pasti seru tuh sama era,”
Bang saiful seolah menggodaku untuk
memberikan argumen, tapi aku hanya menjawab singkat,”ya gitu – gitu aja bang”, akupun teringat akan tugas akhir yang
belum kurampungkan, kemudian memutuskan untuk menyelesaikannya, sebuah laptop,
musik instrumental, Headset, dan
pastinya materi tugas menjdi modalku mengerjakan tugas didalam kamar tidurku,
sampai kuputuskan untuk tidur setelah pukul sebelas berlalu.
“Ndi, o ndi”,
begitulah reihan memanggilku iseng saat dia sedang bermain dengan laptop dan
printenya pada jam delapan pagi ini, “ya,
ada apa” aku menjawab singkat.
“Nggak, aku dengar tadi
malam ada yang jalan sama cewek ya, kenalin lah sama kita siapa tuh”
reihan menjawab pertanyaanku, aku langsung mengerti akan arah perkataan reihan
itu.
Aku yang cukup sensitif mendengar kata cewek, pacar,
pacaran, dan sejenis sebagainya ini langsung bereaksi dan menampik
pembicaraannya, karena sungguh aku tidak seperti yang mereka perkirakan, aku
yakin orang ketiga yang menyebarkan kabar ini adalah bang saiful dan kak tiwi,
dan dianggap berlebihan oleh reihan adiknya, yang selama delapan bulan kami
hidup bersama ini adalah orang yang paling menyebalkan menurutku, karena selalu
membuat telingaku panas ketika mendengar suaranya, entah mengapa mendengar
suaranya saja aku bisa naik darah, meski tidak pernah aku perlihatkan secara
langsung, tapi apa yang baru saja di ucapkannya begitu membuat hatiku kacau,
karena kejadian tadi malam akan memungkinkan terjadinya fitnah jika tidak ku
luruskan, aku tidak menyangka jika apa yang tadi malam terjadi antara aku dan
era, yang hanya berniat membeli piring harus disalah artikan atau diterka-terka
sembarangan oleh orang lain, dan ini temanku sendiri.
“Itu era temanku, bukan
seperti yang kalian pikirkan”, jawabku singkat seperti
membela diri.
“loh - loh santai bung,
nggak apa – apa kok, lebih dari teman sekalipun ngga masalah, sekarang kita
udah boleh kali milih –milih pacar” reihan kembali nyeletuk
dengan kata-kata dan suaranya yang tidak enak sekali kudengar, aku tahu dia
pasti memaksudkan apa yang dilihat lalu diceritakan abangnya kedia tadi malam,
adalah bahwa era itu adalah pacarku, sungguh, berat sekali aku menerima kalau
dugaanku itu benar.
Sejenak
aku terdiam setelah aku tidak membalas omongannya, dan kemudian merenung dalam
kamarku, aku menundukkan hati dan pikiranku pada sang pemberi kebenaran :
“sungguh hati ini tidak
berdaya untuk tidak tersinggung ya Allah, engkau maha melihat dan mengetahui
apa yang terjadi, maka bukakanlah pintu ampunan jika peristiwa tadi malam
dianggap sebagian orang menyimpang dari cerita sebenarnya, ampunilah hamba yang
lalai telah membuka kesempatan terjadinya fitnah, sungguh ini pelajaran yang
indah wahai Tuhanku”
Kembali
ku petik hikmah dalam kejadian dihidupku, “hidup
tidaklah selalu menyerupai apa yang kita kehendaki dan pikirkan, hidup adalah
tentang dirimu, tentang dirimu dan Tuhanmu, serta tentang dirimu dan berbagai
persepsi tentang dirimu, siapa saja akan berpeluang menjadi setan jika engkau
membukakan kesempatan itu, maka tidak layak bagi seorang muslim memberikan
peluang saudaranya untuk menjadi seorang pengghibah atau bahkan menjadi
pemfitnah”
subhanAllah,
aku merasakan kedamaian dalam hatiku setelah tadi cukup panas mendengar gurauan
yang tidak semestinya terjadi, aku kemudian berniat untuk keluar kamar dan
mandi, tanpa sengaja bertemu kembli dengan bang saiful dan reihan yang sedang
menonton televisi, sementara aris serius sekali membaca buku, mahasiswa bahasa
Indonesia itu sedang sibuk sekali menyelasaikan pembuatan kamus.
“wah, udah mandi aja jam segini,
ngga numpang tempat era ndi?” ahh, reihan kembali
menggodaku, dan membicarakan kejadian tadi malam dengan abangnya, padahal dia
tahu bahwa kamar mandi sedang tidak krisis air, betapa temanku yang satu ini
sering berspekulasi dengan kata – katanya yang memancing emosi. Beruntunglah
aku masih bisa berpikir jernih, sebaiknya aku luruskan saja dengan sebuah
kalimat bijak yang membuatnya langsung mengerti, seketika iapun tersentak dan
menunjukkan wajah yang kurang bersahabat padaku, mungkin karena ia teringat
kata-kata ustadznya di pesantren dulu, tapi ia tidak berbicara sedikitpun dan
langsung memalingkan muka.
Hidup
ini begitu indah jika kita mensyukurinya, dan hanya orang – orang yang sabarlah
yang mengerti bagaimana cara mensyukuri kehidupan ini, meski dianya di hantam
badai sekalipun. kejadian yang kualami ini mungkin jika dianalogikan sebagai
bencana, layaknya hanya berupa angin kencang yang mendahului hujan, belum
sekuat badai. Di luar sana, saudara kita yang seiman mungkin tengah mendapatkan
badai dalam hidupnya, bukankah Allah memberikan cobaan sesuai kadar iman
hambaNya?.
Fitnah
akan benar – benar menjadi setan ketika kita membiarkannya, maka segera
luruskan fitnah itu, jika benar kita jalan berdua, terlebih teman kita adalah
lawan jenis, maka setan – setan bisa saja dari orang terdekat kita sekalipun,
tutuplah peluang itu, mulailah menjadi pribadi yang tidak membukakan saudaranya
menjadi setan hanya karena kita jalan bersama dengan teman, terlebih lawan
jenis, akan menjadi kesalahan kita jika masih membiarkannya, semoga Allah mendamaikan
jiwa – jiwa yang masih gusar.
Aan
khosihan, 02072011
MENGHARGAI PERBEDAAN
Manusia selalu merasa dirinya benar
ketika ia tak mau disalahkan, manusia seakan melupakan nilai hidup yang ada
pada dirinya sendiri. Satu sisi manusia selalu menginginkan kesempurnaan akan
satu hal tapi dia mengabaikan untuk menjadi orang yang bisa bekerja sama, dia
mengabaikan dirinya untuk mampu menghargakan sebuah nilai lain dalam kehidupan,
perbedaan.
Manusia, tidak diciptakan oleh maha
pencipta sebagai makhluk yang berdiri sendiri. Tanpa manusia lainpun sejatinya
manusia harus mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunianya, dia punya
tumbuhan, hewan, dan makhluk lain dalam hidupnya, maka dari itu Tuhan
menciptakan kehidupan ini serba sistemik dan berkesinambungan. Tapi
kenyataannya tidak begitu, manusia hidup dengan manusia lainnya. Tidak ada satu kejadianpun yang terjadi
secara kebetulan. Sungguh memaknai sebuah kerjasama dan saling menghargai
adalah sebuah kunci indah dalam damai, manusia akan merasakan nafasnya begitu
ringan dan langkahnya begitu menyenangkan tatkala ia memegang nilai ini, saling
menghargai.
Pernah terpikir oleh kita semua
mengapa kita diciptakan dengan berbagai perbedaan, karena sungguh perbedaan itu
sangatlah indah, perbedaan itu mampu membawa diri kita menjadi manusia yang
lebih berwarna, dan bukankah banyak warna itu menunjukkan sebuah keindahan,
bagaimana pelangi disusun oleh tujuh warna yang sangat selaras membentuk
lengkungan yang indah tak terperi, bayangkan jika pelangi itu hanya memiliki
satu warna saja, merah misalnya.
Mungkin yang membaca ini sedikit
bingung mengenai apa yang sedang dibaca, di awal kita bicara tentang kebenaran
kemudian masuk ke saling menghargai dan
tentang perbedaan, tapi inilah yang akan saya angkat dalam pembicaraan saya
kali ini, adalah tentang menghargai perbedaan, menghargai adalah kunci dari
sebuah perdamaian, menghargai adalah satu – satunya jalan ketika banyak jalan
tertutup untuk mendapatkan ketenangan.
Betapa indahnya hidup dalam sebuah
perdamaian dimana semua warna yang ada saling memperindah warna lainnya dan
bukan mengacaukannya, semua orang baik itu individu maupun kelompok pasti
memiliki warna dan karakter masing – masing dalam langkah hidupnya. Hanya saja terkadang orang – orang senang
sekali memaksakan kepribadiannya untuk diperhatikan oleh orang lain, padahal
jika semuanya dilakukan secara wajar dan benar akan kita dapatkan pengakuan itu
secara sendirinya, kenyataan yang terjadi sekarang adalah manusia seringkali
menginginkan segala sesuatunya dengan keinginannya sendiri sehingga terkesan
dipaksakan, itulah yang menjadikan nilai keselarasan dan keseimbangan kehidupan
menjadi terkecoh dan kacau. Padahal hidup yang berbeda bukanlah sebuah masalah,
justru perbedaanlah yang membuat kita hidup. Jika saja masing – masing kita
memiliki perasaan itu, alangkah indah hidup ini, ketika sesuatu yang memang
tidak bisa dipaksakan kita hargai untuk keseimbangan hidup ini, maka damai
bukanlah hanya sebuah mimpi.
Menghargai sebuah perbedaan bukanlah
sebuah kalimat yang sederhana, ianya mencakup banyak sekali unsur yang ada,
perbedaan itu adalah sebuah kata yang sangat sensitif bagi telinga banyak
orang, perbedaan sering sekali menjadi akar masalah dalam setiap konflik yang
ada, itu memang sebuah keniscayaan, yang namanya perbedaan adalah segala
sesuatu yang tak mungkin disamakan, namun tidak bisa disamakan disini bukan
berarti tidak bisa di selaraskan dan seimbangkan. Air dengan minyak saja yang
tidak pernah bisa menyatu bisa berada dalam satu wadah yang sama. Itulah konsep
menghargai yang saya tawarkan, segala sesuatunya baik itu kepentingan, tanggung
jawab, nilai, budaya dan apapun bekerja sesuai porsinya, sehingga tidak
dimungkinkan terjadi benturan yang sangat merugikan.
Idealnya, menghargai perbedaan akan
terjadi manakala manusia berpikir bahwa dirinya adalah bagian dari sistem
kehidupan yang ada, mereka akan secara sadar dengan sendirinya bahwa dia tidak
bisa berkelakuan semau hatinya dan kehendaknya saja, manusia memiliki batasan
tersendiri dan batasan itu sebenarnya sudah ada pada masing – masing hati
manusia, hati kecil manusia sangat tahu mana yang benar dan mana yang salah,
mana yang melanggar aturan dan mana yang sesuai koridor, karena sejatinya hati
adalah bagian paling vital dalam kehidupan itu sendiri, kecuali hati itu memang
sejak dini sudah dicekokoi oleh nilai – nilai buruk. Namun percayalah sejahat –
jahat manusia dia pasti memiliki sisi baik dalam hatinya. coba anda tanyakan
dan lihat diri anda, anda akan perlahan menyadari diri anda adalah orang baik,
karena hati manusia pasti menyimpan kebaikan itu. mungkin selama ini perilaku
diluar batas yang ada pada diri kita dan kita lakukan secara berulang adalah
gangguan nyata dari luar dan bukan dari dalam diri kita, percayalah menghargai
ada pada diri anda, dan menghargai itu mudah ketika anda sekali lagi sadar
bahwa kita yang ada didunia ini adalah bagian dari sistem yang ada.
Akhirnya, semua yang ada didunia ini
adalah pilihan, sebagian manusia menginginkan hidup dalam damai, sabagian lagi
menginginkan kedamaian dengan caranya sendiri, dan mungkin ada bagian lain dari
manusia yang menginginkan kekacauan, jika kita pandang secara bijak hal itu
adalah bagian dari hukum alam, segala sesuatu yang ada dan terjadi dalam
kehidupan adalah siklus dan sistem dalam kehidupan manusia dan lingkungannya.
Jangan salahkan mengapa kita tidak bisa hidup dalam damai, tapi salahkan
mengapa diri kita tidak bisa menghargai perbedaan dan mendamaikan diri kita
sendiri. Saya hanya mencoba memberikan stimlus bagi pemikiran kita semua yang
katanya sudah modern untuk memikirkan kembali makna dari sistem kehidupan,
menghargai, perbedaan, dan damai. Terakhir saya ulang bahwa perbedaan tidak
akan pernah menjadi satu, tapi perbedaan bisa berjalan selaras dan seimbang,
itu kuncinya.
Langganan:
Komentar (Atom)